OPINI VS ARGUMEN, MEMBEDAH STATUS ABAL-ABAL…

Oplus_131072

OPINI OLEH :
Yusdaliah Yusuf Iccu.
~~~~~~~~~~~~~~~
■ PENGANTAR :radiopena.com —
Dalam satu percakapan (chating) dengan seorang aktivis yang tidak ingin saya sebut namanya di sebuah WAG lokal Barru, ada kalimat berbunyi sbb:

“Opini bisa dibalas dengan opini Kanda, yang bahaya kalau status yang ditanggapi dikira opini. Tks”.

Percakapan ini masih menyusur artikel “PERNYATAAN KONTROVERSIAL YANG MENYESATKAN”. yang saya tulis untuk beberapa media online lokalan Barru beberapa hari sebelumnya.

Walaupun tulisan itu sudah cukup jelas, berupa argumen yang didasari fakta yang bisa diverifikasi, tapi rupanya perlu diperjelas lagi, sehingga saya merasa perlu menulis artikel lain yang sehubungan, tujuannya, agar tidak terjadi “mispersepsi” atau cara pandang yang keliru terhadap ada yang saya sampaikan sebelumnya.

■PENGANTAR :
Sebagai mantan mahasiswa prodi sSospol, jurusan komunikasi, masalah opini, argumen, persepsi dan asumsi menjadi bagian sarapan pagi dengan teman-teman sekampus.

Opini dan argumen merupakan dua konsep yang bertalian erat, yang dapat membawa kita untuk berpikir kritis dan berkomunikasi dengan jitu, dua poin tersebut masih perlu uji analisis, apakah opini dan argumen tersebut berbau asumsi atau rasa persepsi.

□ Opini :
Merupakan pendapat, bersifat pandangan pribadi tentang suatu masalah. Opini didasarkan pada keyakinan, atau pengalaman empiris, tidak perlu didukung oleh bukti, fakta atau data.

□ Argumen :
Uraian pendapat yang digunakan untuk mendukung atau menentang suatu opini. Pendapat tersebut didasarkan pada bukti, fakta, data atau logika, bertujuan untuk meyakinkan pihak lain tentang kebenaran suatu pendapat.

■ OPINI VS ARGUMEN :
Agar lebih jelas, mari kita analisis status yang telah saya urai dalam artikel sebelumnya, seperti dibawah ini.

● STATUS:
Buat pejabat dan orang orang yang pernah berseberangan dgn Bupati dan Wakil Bupati pada saat Pilkada tahun lalu jaga jaraklah dulu, mengerti lah sedikit berikan lah ruang bagi pendukung dan simpatisan beliau untuk ikut membersamai mereka di pemerintahan.

● KOMENTAR :
Kalimat diatas adalah opini, bersifat pendapat pribadi, tidak ada bukti, fakta atau aturan yang mendukung, bahkan bersifat diskriminasi dan tersirat kriminalisasi kepada kelompok yang berseberangan dengan bupati. Sementara itù pendukung dan simpatisan akan diberi ruang atau “keistimewaan”, member samai, artinya ini praktek “eksklusif” bukan inklusi seperti janji bupati saat debat kandidat.

Kalimat diatas jelas adalah opini yang menggiring publik.
~~~~~~~~
● STATUS :
“Biarkan Bupati dan Wakil Bupati bersama dengan Pendukung dan simpatisan beliau untuk menata daerah ini agar menjadi lebih baik lima tahun kedepan”.
○ Kalimat diatas adalah opini asumtif, karena tidak disertai indikator kemampuan Pendukung dan simpatisan yang punya indikator kepastian bahwa bersama bupati dapat membuat daerah ini menjadi lebih baik 5 tahun kedepan.
Kalimat di atas sekali lagi bersifat opini asumtif atau penggiringan opini publik.
~~~~~~~~
● STATUS :
“Saya yakin daerah ini akan baik baik  saja tanpa dukungan dari para pendukung dan simpatisan Paslon yang telah kalah dalam pilkada beberapa waktu lalu”.
● KOMENTAR :
Kalimat diatas jelas adalah opini, pendapat pribadi dan diyakinan sendiri, tidak ada para parameter yang dapat mengukur keyakinan tersebut, apa kompetensi penulis status yang mendasari keyakinan tersebut, atau istilah populernya : “siapakoka, (emang kamu siapa) mau tong main yakin segala”.. he..he..he.
~~~~~~~~~~

■ OPINI VS ARGUMEN.
Dari analisis ini, secara keseluruhan Kalimat status medsos diatas termasuk kategori opini karena mengandung pendapat pribadi yang subjektif dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara objektif, sehingga perlu ditanggapi dengan argumen yang didukung oleh bukti yang bisa diverifikasi.

Argumen yang benar harus didukung oleh bukti atau fakta yang dapat diverifikasi, sedangkan kalimat tersebut lebih bersifat subjektif dan tidak didukung oleh bukti yang jelas.
Oleh karena itu, kalimat status tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai opini daripada argumen.

■ OPINI VS OPINI : Dari chat dengan aktivis yang telah saya tuliskan diatas berbunyi :
“Opini bisa dibalas dengan opini Kanda, yang bahaya kalau status yang ditanggapi dikira opini. Tks”.
Untuk menanggapi apa yang disampaikan, ada dua poin yang yang tersurat :

● Satu :
Opini tidak bisa ditanggapi dengan opini, karena bersifat pandangan pribadi tentang suatu masalah. Opini didasarkan pada keyakinan, atau pengalaman empiris, tidak perlu didukung oleh bukti, fakta atau data, sehingga opini tidak bisa dilawan dengan opini karena dapat mengundang perdebatan yang bersifat “debat kusir” berkepanjangan. Tapi opini harus dilawan dengan argumen, karena argumen didasarkan pada bukti, fakta, data atau logika, bertujuan untuk meyakinkan pihak lain tentang kebenaran suatu pendapat.

● Dua :
“yang bahaya kalau status yang ditanggapi dikira opini”.

Jelas dari analisis yang terurai diatas bahwa status tersebut adalah opini sehingga harus ditanggapi dengan argumen.
Dari sisi lain, jika status tersebut bersifat argumen, tentu ada bukti, fakta, data atau ada premis logika dalam status tersebut.

Pertanyaannya dari mana sumber bukti, fakta dan data, apakah bersumber dari Pendukung dan simpatisan bupati terpilih, atau bersumber dari bupati dan wakil bupati terpilih, silahkan pilih, apapun pilihannya pasti salah, karena melanggar UU dan etika demokrasi.

■ KESIMPULAN :
Proses diskusi atau debat, seringkali kita dihadapkan pada perbedaan antara opini dan argumen.
Sesuai analisis kita diatas, Opini adalah pendapat pribadi yang subjektif dan tidak selalu didukung oleh bukti atau fakta, sedangkan argumen adalah serangkaian pernyataan yang didukung oleh bukti atau fakta untuk mendukung atau menentang suatu opini yang asumtif.

Oleh karena itu, opini tidak bisa ditanggapi dengan opini, tapi harus dengan argumen yang berdasar pada bukti dan fakta.

Hal ini dapat membantu menghindari debat berkepanjangan dan memastikan bahwa diskusi atau debat berjalan secara konstruktif dan produktif.

■ PENUTUP :
Diera informasi yang semakin kompleks dan dinamis seperti saat ini, kemampuan untuk membedakan antara opini dan argumen menjadi semakin penting.

Dengan memahami perbedaan antara keduanya, kita dapat berpartisipasi dalam diskusi atau debat dengan lebih efektif dan konstruktif.

Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk membangun budaya diskusi yang sehat dan produktif, di mana opini ditanggapi dengan argumen yang berdasar pada bukti dan fakta, sehingga kita dapat mencapai kesepakatan dan memajukan pemahaman kita tentang berbagai isu dan topik.

Demikian artikel ini saya tulis, dengan harapan dapat bermanfaat bagi kita semua. Lebih dan kurangnya mohon maaf sebesarnya.
Wassalaam.

Barru 28 Maret 2025.
Yusdaliah Yusuf Iccu.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *