Oleh: Abdillah.MS
radiopena.com — Pesona alam eksotis yang dimiliki oleh Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel), terbentang luas dari ujung utara hingga ke selatan, mulai dari sungai dengan susunan bebatuan nan indah, gugusan pulau, keindahan air terjunnya yang menjulang tinggi, hingga dataran tinggi yang memesona.
Beberapa hari terakhir ini saya melakukan reupload video dokumentasi perjalanan saya di beberapa tempat wisata di Kabupaten Barru melalui akun mediasi sosial, itu terutama yang masih jarang diexplore oleh wisatawan pada umumnya.
Sebagai orang awam tentang pengelolaan pariwisata, mungkin tulisan ini sangatlah berlebihan, tapi setidaknya sebagai bahagian terkecil dari elemen anak bangsa, hanya ingin mengeluarkan unek unek bahwa Kabupaten Barru memiliki bentang alam nan indah, dan bisa dijadikan potensi destinasi wisata andalan yang tidak kalah bersaing dengan wilayah wilayah lainnya di Indonesia.
Luas wilayah Kabupaten Barru 1.174,72 kilometer persegi yang terbagi atas tujuh kecamatan ini, dikaruniai dengan garis pantai dari utara ke selatan, gugusan pulau, gunung serta bukit, air terjun, sungai, kuliner, hingga budaya yang beragam, semuanya tersedia di Kabupaten Barru yang letaknya di bagian tengah Provinsi Sulsel ini.
Sehingga wajar kalau ada yang menganggap Kabupaten Barru adalah kepingan surga yang diturunkan oleh Tuhan di muka bumi ini. Hanya saja, kurang digarap serius, padahal sektor pariwisata ini adalah salah satu potensi penopang ekonomi rakyat.
Mungkin kita bisa banyak belajar dari daerah Banyuangi, Jawa Tengah, yang pernah menjadi sorotan dunia karena sangat serius menggarap potensi sektor pariwisata yang dimilikinya, hanya dengan menggarap kalender tahunan yang ia beri nama “Banyuangi Festival”, sehingga berimbas pada peningkatan pendapatan warga sebesar 120%, dan mempengaruhi pendapatan perkapitanya yang melonjak 70 Persen.
Sudah saatnya Kabupaten Barru menyambut perubahan paradigma pariwisata di era digitalisasi “Changes of Tourism Paradigma In the Era of Digital”.
Perubahan paradigma pariwisata di era digital adalah cara pariwisata yang dikembangkan, dikelola, dan dinikmati di era digital. Dimana teknologi digital sangat mempengaruhi industri pariwisata serta mendorong adanya strategi pemasaran dan promosi destinasi wisata yang menggunakan media digital, dan pengembangan produk wisata yang berbasis digital dan inovatif. Perubahan paradigma ini memerlukan adaptasi dari industri pariwisata untuk tetap relevan dan kompetitif di era digital.
Sahabat saya yang pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sulawesi Selatan, Hendra Nick Arthur pernah berpesan, daya tarik wisata yang kita miliki seharusnya menjadi konsen kita bersama.
Apalagi kita kenal dengan yang namanya Energi Pentahelix Kepariwisataan Nasional yang di dalamnya mencakup kalangan akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, komunitas dan industri media.
Sejak gerakan pentahelix pariwisata nasional yang diperkenalkan oleh Arief Yahya, Menteri Pariwisata di era pertama kabinet Jokowi, perwakilan industri media bersama praktisinya sudah mulai menunjukkan eksistensi mereka. Bahwa pelaku industri media bukan hanya sebagai alat propaganda dalam memperkuat pengembangan kepariwisataan daerah, melainkan media telah menjadi katalisator gerakan promosi kepariwisataan daerah. Keterbatasan anggaran branding dan advertisement bukan lagi kendala dalam kegiatan promosi daerah.
Tetapi menjadi sebuah tantangan sejak era revolusi industri 4.0 dimulai, dimana mewajibkan kecepatan informasi harus tepat dan akurat. Apalagi akurasi konten yang sangat dibutuhkan publik saat ini, ditengah terjangan informasi hoaks, disinformasi dan false news yang mulai menjamur di sekitar kita.
Praktisi jurnalistik di kawasan Ajatappareng misalnya, mereka telah membuktikan hal ini, bahwa kalangan media bukan lagi unsur yang harus dianggap sebelah mata. Tanpa alokasi anggaran dari pemerintah daerah pun, mereka terus berbuat, dan berkarya tanpa pamrih demi kemajuan pariwisata di daerahnya.



