Opini  

Selamat Jalan Bupati Purna Tugas dan Selamat Datang Bupati Baru

Oplus_131072

Catatan Kecil oleh :

Yusdaliah Yusuf Iccu.
~~~~~~~~~~~~~~~

OPINI, radiopena.com  —

PENGANTAR :

Tanggal, 18 Februari 2025 Bupati 2 priode, Dr (HC) Ir.H. Suardi Saleh Msi. bersama wakil Bupati. Aska Mappe, SH. yang mendampingi selama 1 priode, pada waktu hampir bersamaan Bupati terpilih priode 2025-2029 telah dilantik secara kolektif oleh presiden Prabowo di Jakarta.
Catatan kecil ini disusun sebagai apresiasi sekaligus sebagai penyampaian harapan seperlunya.

■ TERIMA KASIH DAN SELAMAT MENJALANI PURNA TUGAS :
Secara pribadi sebagai warga Barru, mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada Bapak Bupati yang telah menjabat sebagai pemimpin daerah selama beberapa tahun terakhir.

Selama masa jabatannya, Bapak Suardi Saleh bersama Bapak. Aska Mappe telah menunjukkan dedikasi dan pengabdian yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memajukan daerah Barru.

Tentunya, masih belum sempurna dan dirasa masih terdapat kekurangan yang dirasakan dalam masa jabatan beliau, tapi dapat dipahami bahwa itu semua karena keterbatasan dalam berbagai hal yang  berhubungan dengan keterbatasan anggaran dan keterbatasan kinerja SDM dikalangan birokrat, ada diantaranya diberi berbagai posisi strategis, tapi tidak dapat berfungsi semestinya, itulah yang dirasakan, sehingga bisa memahami kondisi dan situasi daerah kita, yang ternyata ditunggangi kepentingan politik pragmatis-opportunis oknum birokrat.

■ FENOMENA PECAH TELUR :
Satu hal yang menjadi catatan penting dan fenomenal, bahwa “bapak Suardi Saleh dan Aska Mappe adalah bupati dan wakil yang berasal dari kalangan masyarakat biasa, bukan kalangan bangsawan” seperti yang terjadi selama ini, ini penting karena beliau sebagai pioner fenomena yang terjadi selama ini dalam pemerintahan kabupaten Barru.

Fenomena “Pecah Telur” ini menjadi penting saat ini, karena bupati terpilih saat ini kembali ke fenomena lama, karena “bupati terpilih” kembali kepada kaum bangsawan, ini penting untuk menjadi perhatian karena adanya perbedaan karakter kepemimpinan, bukan karena kita “anti bangsawan”, jadi sekali lagi ini bukan karena anti bangsawan tapi bagai mana memahami feodalisme, membahas hal ini merupakan diskusi yang panjang, penuh dialektika yang saya tidak akan bahas pada tulisan ini.

■ HARAPAN PERUBAHAN :
Sebagai warga Barru mengucapkan selamat kepada “Hj.Andi Ina Kartika Sari SH, MSi, bersama Dr. Ir Abustan A Bintang” atas dilantiknya sebagai bupati dan wakil bupati priode 2025-2029.

Warga Barru sebagai pemberi amanah berharap kepada Ibu Bupati dan wakil dapat menjalankan tugas dengan baik dan berharap sepenuhnya membawa kemajuan bagi daerah kita. Warga sepenuhnya juga berharap bahwa Ibu Bupati dapat menjadi pemimpin yang bijaksana dan visioner, serta dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memajukan daerah secara adil dalam arti kata, sejak terpilih Ibu Bupati, ibu adalah bupati bagi semua warga Barru, bukan Bupatinya pemilih “INIMI” saja, tapi Bupati bagi semua warga Barru dalam arti adil seluas- luasnya, tidak ada lagi “eforia kemenangan norak” dikalangan pendukung yang terkesan membelah “persatuan warga” dan bertepuk dada sebagai the winner yang sampai saat ini masih petantang- petenteng ..ha..ha..ha.

■ BUPATI BUKAN TUGAS YANG MUDAH :
Hakekatnya kita pahami bersama, bahwa menjalankan tugas sebagai Bupati, bukanlah tugas yang mudah, karena dalam ilmu management seorang Bupati sebagai sebagai pimpinan tertinggi tingkat kabupaten harus mempunyai dua komponen karakter yang melekat secara pribadi , pertama : skill-expertise, dan kedua : integrity.

Kedua komponen karakter tersebut melekat secara pribadi dan harus dalam kondisi yang prima, menyimbolkan kepemimpinan yang akan membawa sukses untuk Ibu Bupati menjadikan wilayah dan masyarakat Barru kearah “perubahan yang lebih tertata” sesuai tagline yang diusung.

Skill-xpertise dan integrity ini dikatakan harus melekat secara pribadi dan tidak bisa diwakilkan, karena dua komponen tersebut merupakan roh yang prima bagi seorang pemimpin, jika tidak kepemimpinan akan kedodoran dalam proses pelayanan dan pembangunan dan jika diwakilkan akan terjadi “matahari kembar”,
Itulah sebabnya tugas bupati itu dikatakan “bukan tugas yang ringan”.

■ HARAPAN WARGA.
Warga secara sederhana berharap, bahwa, Ibu Bupati dapat menjalankan tugas dengan baik dan dapat menjadi contoh bagi jajaran institusi PEMDA.

Warga juga berharap bahwa, Ibu Bupati dapat menerima dan mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat dengan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memajukan daerah seperti apa yang dijanjikan, berupa 18 program prioritas sebagai janji dalam kampanye yang dipahami sebagai “kontrak politik” yang menjadi “fakta integritas” yang akan dinilai, sejauh mana kemampuan intelektual dan integritas bupati terpilih 2025-2029.

■ GAYA KEPEMIMPINAN :
Kita sebagai warga yang peduli dengan kemajuan daerah kita, harus menyadari bahwa feodalisme masih hidup di kalangan birokrat, terutama di tingkat pemerintahan dan hubungan sosial, hal ini bisa kita amati dengan mata telanjang dan mata bathin, karena feodalisme punya gaya kepemimpinan yang mudah dikenal.

Praktek feodalisme dalam pemerintahan tidak saja dapat dilakukan oleh turunan bangsawan, tapi bisa saja oleh yang tidak masuk kategori tersebut. Sebaliknya, banyak diantara bangsawan yang bersikap sangat moderat, sementara yang bukan justru yang bersikap feodal, fenomena ini terjadi pada banyak instansi terutama yang berhubungan dengan pelayanan perizinan, saya sendiri pernah merasakan hal ini secara pribadi.

Birokrat yang memiliki sifat feodalisme yang kuat, dapat menghambat kemajuan daerah yang berakibat negatif yang berdampak luas, antara lain :
□ Pengambilan keputusan yang tidak transparan dan tidak demokratis, misalnya dalam penerapan “meritokrasi atau merrit system”, menempatkan personil sesuai keahliannya.

□ Penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang karena adanya kepentingan orang dalam.

□ Diskriminasi dan tidak adil dalam pelayanan publik, terutama kepada yang dianggap lawan politik.

□ Penghambatan kemajuan daerah karena kepentingan pribadi atau kelompok pendukung.

■ MEMPERKUAT DEMOKRASI :
Menyikapi sikap feodalisme ini, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah:

□ Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya feodalisme, paham management pemerintahan.
□ Menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan, terutama masalah penempatan fungsional dalam pemerintahan.
□ Mendukung pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas untuk kemajuan daerah kita, bukan kemajuan segelintir orang.
□ Mengawasi dan mengkritik kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat, terutama penempatan pejabat instansi pemerintah berdasarkan selera “suka atau tidak suka”.

■ KESIMPULAN :
Kepada bupati terpilih kita beri kesempatan untuk bekerja sesuai janjinya.

Disamping itu kita harus sadari bahwa “Feodalisme” masih hidup di kalangan birokrat dan dapat memiliki dampak yang negatif bagi kemajuan daerah kita.
Makanya Kita harus melakukan peringatan terhadap feodalisme dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya feodalisme.
Dengan demikian, kita dapat menciptakan pemimpin yang lebih demokratis dan transparan, serta mendorong kemajuan daerah kita, dengan cara, salah satunya “membangun kecerdasan kritis yang konstruktif” dan menjaga terpeliharanya keadilan birokratif.

■ PENUTUP :
Demikian yang dapat disampaikan sebagai catatan kecil untuk bupati purna tugas dan bupati terpilih, semoga mereka tetap sehat dibawah lindungan Allah SWT Aamiin.
Sekian, wassalaam.

Barru, 24 Februari 2025.

Yusdaliah Yusuf Iccu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *