~~~~~
Artikel disusun oleh :
Yusdaliah Yusuf Iccu.
~~~~~
■ PENGANTAR :
Dalam bencana banjir seperti yang sedang dialami di Kab Barru, dibutuhkan suatu model pendekatan yang komprehensip.
Model tersebut biasa disebut dengan model Managemen SSRI (Survey Situasi, Respon dan Inisiatif).
Model tersebut sempat saya pelajari saat menjadi relawan tzunami Aceh (2004-2005) bersama Zoel Amin Pasolong (suami penulis) saat ikut dalam tim Sulsel Peduli Aceh Pemda Sulsel yang dipimpin oleh SYL.
TAHAP PERTAMA :
■ Survey Situasi :
Dalam menilai kegawatan bencana banjir diperlukan pendekatan komprehensif.
Berikut adalah faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan :
■ Situasi Alam
1. Intensitas hujan dan curah hujan.
2. Ketinggian air dan luasnya genangan.
3. Kedalaman dan kecepatan arus air.
4. Jenis tanah dan kondisi geologi.
5. Lokasi dan kemiringan lereng.
Semua data tentang situasi tersebut perlu didatakan sebagai bahan untuk interpretasi situasi dan kegawatan yang ditimbulkan.
■ Situasi Manusia.
1. Jumlah korban jiwa yang hilang, luka-luka atau sakit.
2. Jumlah korban terdampak, mengungsi,terisolasi yang membutuhkan bantuan.
3. Kerusakan infrastruktur (jalan, jembatan, bangunan).
4. Kerugian materi, harta benda dan badan usaha .
5. Ketersediaan sumber daya yaitu : air bersih, makanan, kesehatan, sarung dan pakaian).
■ Situasi Sosial
1. Dampak pada komunitas dan kehidupan sosial.
2. Ketergangguan aktivitas ekonomi dan pendidikan.
3. Psikologis korban (stres, trauma).
4. Kehilangan tempat tinggal dan infrastruktur.
5. Dampak pada anak-anak, lansia, dan disabilitas.
■ Situasi Ekonomi
1. Kerugian ekonomi total.
2. Dampak pada sektor industri dan pertanian.
3. Ketergangguan pasokan dan distribusi barang.
4. Biaya perbaikan dan rekonstruksi.
5. Dampak pada PDB dan inflasi.
■ Situasi Lingkungan
1. Kerusakan lingkungan pencemaran air, tanah).
2. Kehilangan vegetasi.
3. Dampak pada ekosistem.
4. Ketergangguan siklus alam.
5. Risiko bencana lanjutan (tanah longsor, erosi).
■ Tahap Penilaian
1. Tahap awal (0-72 jam): Penilaian cepat untuk menentukan skala bencana.
2. Tahap tengah (3-14 hari): Penilaian lebih detail untuk menentukan kebutuhan.
3. Tahap akhir (2-6 minggu): Penilaian komprehensif untuk perencanaan rekonstruksi.
■ Instrumen Penilaian yang digunakan :
1. Indeks Kegawatan Bencana (IKB).
2. Skala Kegawatan Bencana (SKB).
3. Sistem Penilaian Kegawatan Bencana (SPKB).
4. Laporan Penilaian Kegawatan Bencana (LPKB).
■ Prinsip Penilaian
1. Objektivitas.
2. Akurasi.
3. Transparansi.
4. Kepastian.
5. Kolaborasi antar-stakeholder.
TAHAP KEDUA :
Berikut adalah langkah-langkah respon terhadap bencana banjir:
■ Saat Bencana Banjir
1. Evakuasi cepat dan aman.
2. Penyelamatan korban dan harta benda.
3. Pembukaan posko bantuan.
4. Distribusi bantuan (makanan, air, kesehatan).
5. Komunikasi dengan keluarga dan teman.
■ Setelah Banjir :
1. Evaluasi kerusakan dan korban.
2. Pembersihan dan perbaikan infrastruktur.
3. Rehabilitasi dan rekonstruksi.
4. Bantuan psikologis korban.
5. Perencanaan strategis untuk mencegah banjir di masa depan.
■ Aksi Kedaruratan :
1. Hubungi layanan darurat (112/911).
2. Cari tempat tinggi dan aman.
3. Hindari kontak dengan air banjir.
4. Jangan menggunakan listrik.
5. Ikuti instruksi petugas.
■ Peran Aktif Masyarakat
1. Gotong royong membersihkan lingkungan.
2. Donasi untuk korban banjir.
3. Bantu evakuasi dan pengungsian.
4. Berbagi informasi dan kesadaran.
5. Mendukung upaya pemulihan.
Sumber Informasi
1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
2. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
3. Organisasi PBB (UNDP, UNICEF).
4. Situs web resmi pemerintah.
5. Media sosial resmi.
TAHAP KETIGA :
Inisiatif dalam penanganan bencana banjir oleh berbagai pihak :
■ Inisiatif Pemerintah
1. Membangun sistem peringatan dini banjir.
2. Meningkatkan infrastruktur pengairan (bendungan, tanggul).
3. Membuat rencana kontinjensi bencana.
4. Melakukan pelatihan dan simulasi evakuasi.
5. Mengalokasikan anggaran untuk penanganan bencana.
■ Inisiatif Masyarakat
1. Gotong royong membersihkan sampah pasca-banjir.
2. Membuat tim relawan penanganan bencana.
3. Mengumpulkan donasi untuk korban banjir.
4. Membuat posko bantuan dan pengungsian.
5. Menyebarkan informasi dan kesadaran tentang bencana karena kerusakan dan dampaknya.
■ Inisiatif Teknologi
1. Penggunaan teknologi satelit untuk pemantauan cuaca.
2. Aplikasi peringatan dini banjir.
3. Sistem informasi geografis (SIG) untuk pemetaan risiko.
4. Penggunaan drone untuk pemantauan dan penilaian kerusakan.
5. Teknologi pengolahan air banjir.
■ Inisiatif Lingkungan
1. Reboisasi dan penghijauan.
2. Konservasi tanah dan air.
3. Pembangunan taman penyerap air.
4. Pengelolaan sampah dan limbah.
5. Perlindungan ekosistem.
■ Inisiatif Kesehatan
1. Pengawasan kesehatan korban banjir.
2. Penyediaan layanan kesehatan darurat.
3. Pengendalian penyakit pasca-banjir.
4. Distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan.
5. Psikologis korban.
■ Inisiatif Ekonomi
1. Bantuan ekonomi untuk korban banjir.
2. Pengembangan program ekonomi lokal.
3. Pembangunan infrastruktur ekonomi.
4. Perlindungan usaha kecil dan menengah.
5. Pengembangan pariwisata pasca-banjir.
■ Parapihak yang perlu terlibat :
1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
2. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
3. Organisasi PBB (UNDP, UNICEF).
4. Lembaga filantropi, Baznas,kurir langit.
5. Lembaga swadaya masyarakat (LSM).
5. Universitas dan lembaga penelitian.
6. Ormas dan Organisasi keagamaan.
7. Partai Politik.
8. Dll.
Jadi pada dasarnya, semua unsur masyarakat harus terlibat dalam penanganan bencana, jangan sampai ada lagi unsur ormas yang mengatakan akan membantu bila DIBUTUHKAN, sebab semua potensi dibutuhkan dalam hal penanganan bencana.
PENUTUP :
Mari perkuat kordinasi dalam penanganan bencana ini dengan jalan bergabung secara sukarela demi kemanusiaan dan agar dampak bencana bisa ditanggulangi secara menyeluruh,bertahap dan “dalam tempo sesingkat-singkatnya”.
Semoga bermanfaat, wassalam.
Barru yang lagi berduka,
22 Desember 2024.











